Namaku Nara. 17 tahun. Aku baru saja menyadari bahwa semua yang aku ingat tentang ibuku mungkin bukan kenangan. Mungkin itu perintah.
Ibuku meninggal saat aku berusia 7 tahun. Itu yang selalu kupercaya. Itu yang ditulis di dokumen panti. Itu yang dikatakan Bu Ratih, pengurus panti yang membesarkanku selama sepuluh tahun terakhir. Itu yang tertera di selembar surat kematian yang permukaannya sudah menguning dan baunya seperti lemari tua.
Dewi Saraswati. Meninggal 14 Maret 2014. Sebab kematian: tidak diketahui.
Tidak diketahui? Aku selalu berpikir itu aneh. Namun aku tidak pernah cukup berani untuk bertanya lebih jauh. Sampai malam itu.

Panti Asuhan Tunas Harapan
Panti Asuhan Tunas Harapan berdiri di pinggiran Purwokerto.
Bangunannya tua. Dindingnya dari bata yang catnya sudah mengelupas dalam lapisan-lapisan seperti kulit yang terkelupas. Halamannya luas tetapi pohon-pohonnya tumbuh terlalu rapat, terlalu tinggi, sampai siang hari pun bagian belakang panti selalu terasa seperti senja.
Aku tumbuh di sini.
Aku kenal setiap sudutnya.
Atau kupikir begitu.
Sampai malam Jumat tiga minggu lalu, saat aku tidak sengaja menemukan pintu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Pintu di Bawah Tangga
Aku turun tengah malam untuk mengambil minum.
Biasa. Aku memang sering susah tidur.
Tteapi saat aku lewat bawah tangga utama, bagian yang biasanya penuh kardus dan barang-barang lama, aku melihat sesuatu yang aneh.
Kardus-kardusnya tergeser.
Dan di baliknya ….
Ada pintu kecil.
Setinggi pinggang. Dengan handle besi yang sudah berkarat.
Aku berdiri, terdiam lama.
Aku sudah tinggal di panti ini sepuluh tahun.
Aku tidak pernah tahu pintu ini ada.
Aku berlutut. Kubuka pintu itu.
Di baliknya ada tangga kayu yang turun ke bawah. Ke sebuah ruangan yang tidak punya jendela. Tidak punya ventilasi. Tapi entah kenapa ….
Tidak pengap.
Justru dari bawah naik udara yang bau kemenyan.
Samar tetapi terasa.
Aku turun.
Ruangan di Bawah Panti
Ruangan itu kecil. Mungkin tiga kali empat meter.
Dindingnya tanah. Lantainya tanah. Langit-langitnya kayu lapuk dari bawah lantai panti.
Dan di tengah ruangan itu ….
Ada sesuatu yang sudah lama ada di sana.
Aku bisa melihat dari debunya.
Sebuah tikar pandan yang sudah hampir hancur. Di atasnya ada wadah tanah liat kecil, tempat membakar sesuatu, yang isinya sudah jadi abu berlapis-lapis. Di sekeliling wadah itu, disusun dengan rapi dalam lingkaran.
Rambut panjang. Hitam. Masih terlihat berkilau meski ruangan ini gelap dan lembap.
Banyak sekali. Ratusan. Mungkin ribuan helai. Susunan mengerikan yang biasa disebut sebagai penanda rambut sewu. Disusun melingkar seperti sarang.
Di tanah, digores dalam dengan sesuatu yang tajam, ada tulisan. Kusorot dengan ponselku.
Kubaca.
Sebagian dalam bahasa Jawa kuno yang tidak aku mengerti, tetapi di satu bagian, ada kalimat dalam huruf latin yang jelas terbaca.
“Untuk Nara. Supaya kamu selalu kembali. Supaya kamu tidak bisa pergi jauh. Supaya tali ini tidak pernah putus.”
“Ibumu.”
Aku Tanya Bu Ratih
Paginya aku langsung ke kamar Bu Ratih.
Bu Ratih perempuan berusia 60-an. Sudah mengurus panti ini sejak lama. Rambutnya selalu disanggul rapi. Jalannya pelan tetapi pandangan matanya selalu tajam.
Kuceritakan apa yang kutemukan. Termasuk temuan janggal helaian rambut sewu di lantai tanah itu.
Bu Ratih tidak bereaksi seperti yang kuharapkan.
Dia tidak kaget.
Dia hanya menutup matanya sebentar.
Lalu berkata pelan ….
“Kamu akhirnya turun juga ke sana.”
“Bu Ratih tahu ruangan itu?”
“Saya yang menutupnya sepuluh tahun lalu.”
Aku terdiam.
“Itu ruangan ibumu, Nara.”
Cerita Bu Ratih
Ibuku, Dewi Saraswati, datang ke panti ini bukan sebagai anak asuh.
Dia datang sebagai relawan. Usia 24 tahun. Tidak menikah. Sedang hamil tujuh bulan saat pertama kali Bu Ratih menerimanya.
Tidak ada yang tahu siapa ayah anak itu.
Dewi tidak pernah cerita.
Yang Bu Ratih tahu, Dewi sangat ketakutan. Bukan takut miskin. Bukan takut sendirian. Tetapi takut kehilangan anak yang belum lahir itu.
“Ibumu pernah cerita,” kata Bu Ratih. “Dulu dia punya seseorang, tetapi orang itu pergi. Ninggalin dia waktu hamil. Dan Dewi … hancur.”
Dewi tinggal di panti. Melahirkan Nara di sana. Dan selama tujuh tahun pertama hidup Nara, Dewi tidak pernah sekalipun meninggalkan panti lebih dari satu hari.
“Terlalu menjaga kamu,” kata Bu Ratih. “Sampai kami yang lain kadang khawatir.”
“Tapi Ibu meninggal waktu aku umur 7, Bu.”
Bu Ratih menatap aku lama.
“Nara ….”
Bu Ratih menarik napas panjang.
“Ibumu tidak meninggal waktu kamu umur 7 tahun.”
Kebenaran Pertama
Dewi menghilang. Bukan meninggal. Suatu pagi di Maret 2014 Dewi tidak ada di kamarnya. Tidak ada di mana-mana di panti. Tidak ada surat. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan.
Yang ada hanya Nara, 7 tahun , yang menangis di depan kamar kosong ibunya. Di dalam kamar Dewi, di bawah Kasur, Bu Ratih menemukan sesuatu yang membuat dia memutuskan untuk berbohong kepada Nara selama sepuluh tahun.
Sebuah buku kecil. Bersampul kain hitam. Isinya tulisan tangan Dewi.
Isi Buku Itu
Bu Ratih menyimpan buku itu.
Dia ambilkan untuk aku pagi itu.
Aku buka dengan tangan gemetar.
Tulisan Ibu. Aku kenal tulisannya dari foto-foto lama. Kecil, miring ke kanan, rapi.
Halaman pertama bertanggal tiga tahun sebelum dia menghilang.
Isinya adalah catatan harian.
Tapi bukan catatan harian biasa.
Ini catatan ritual.
Ibu menulis semuanya. Langkah demi langkah. Dengan presisi yang membuat aku mual membacanya.
Dia menulis tentang Ritual Rambut Sewu.
Tentang bagaimana dia belajar ilmu rambut sewu dari seorang perempuan tua di sebuah desa di lereng Gunung Slamet. Tentang bagaimana ritual itu bekerja. Tentang apa yang dijanjikan dan apa yang harus dibayar.
Namun yang membuatku berhenti bernapas adalah tujuan ritual yang Ibu tulis.
Bukan untuk mengikat laki-laki yang meninggalkannya.
Bukan untuk balas dendam.
Tujuannya hanya satu kalimat.
“Supaya Nara tidak pernah bisa pergi terlalu jauh dariku. Supaya ke mana pun dia pergi, ada sesuatu yang akan selalu membawanya pulang.”
Aku menutup buku itu, duduk di lantai kamar Bu Ratih dan mulai berpikir.
Berpikir tentang sepuluh tahun terakhir.
Tentang berapa kali aku mencoba pergi. Beasiswa ke luar kota yang kutolak di menit terakhir tanpa alasan jelas. Tawaran tinggal bersama keluarga angkat yang tiba-tiba terasa salah dan kubatalkan. Rencana-rencana yang selalu buyar setiap kali melibatkan aku meninggalkan panti ini lebih dari beberapa hari.
Aku selalu berpikir itu pilihanku.
Aku selalu berpikir aku memang nyaman di sini.
Aku selalu berpikir, aku yang memutuskan untuk tinggal.
Namun, sekarang, aku tidak tahu lagi mana yang keputusanku dan mana yang bukan.
Halaman Terakhir Buku
Aku buka lagi buku itu, halaman terakhir. Tanggalnya 13 Maret 2014.
Satu hari sebelum Ibu menghilang.
Tulisannya lebih berantakan dari halaman-halaman sebelumnya. Seperti ditulis tergesa. Atau dengan tangan yang gemetar.
“Ritual sudah sempurna. Seribu rambut sudah terpenuhi. Rambut Nara yang aku kumpulkan sejak dia bayi — dari sisir, dari bantal, dari potongan rambutnya — semuanya sudah dibakar bersama rambutku sendiri.”
“Perjanjian sudah berlaku.”
“Tapi malam ini sesuatu datang. Berdiri di luar pintu kamarku. Saya bisa dengar suaranya. Bukan suara manusia.”
“Saya tidak menyesal melakukan ini. Saya tidak menyesal.”
“Tapi saya baru mengerti sekarang apa yang dimaksud dengan ‘harga yang harus dibayar’.”
“Ritual Rambut Sewu mengikat dua arah. Nara tidak bisa pergi dariku.”
“Tapi aku juga tidak bisa pergi dari Nara.”
“Ke mana pun aku pergi — aku akan selalu ada di dekat Nara.”
“Selamanya.”
Halaman habis di situ.
Aku tutup bukunya.
Aku tidak bergerak lama.
Dan kemudian —
Dari arah bawah tangga —
Dari arah ruangan kecil di bawah panti —
Aku dengar suara.
Pelan.
Seperti seseorang sedang menyusun sesuatu di lantai tanah.
Seperti suara rambut yang ditata satu per satu dengan sangat hati-hati.
Malam Itu
Aku tidak turun ke ruangan itu lagi.
Aku kunci pintu kamar aku.
Aku duduk di sudut kasur dengan lutut dipeluk sampai subuh.
Tapi sekitar jam 3 dini hari —
Aku mencium bau kemenyan.
Dari bawah pintu kamar aku.
Dan kemudian —
Sangat pelan —
Ada sesuatu yang masuk dari celah bawah pintu.
Satu helai rambut panjang.
Hitam.
Bergerak sendiri melintasi lantai kamar aku.
Menuju ke arah aku.
Berhenti tepat di depan kaki aku.
Dan dari balik pintu —
Aku dengar suara napas.
Bukan suara hantu yang aku bayangkan selama ini.
Bukan suara mengerikan.
Tapi suara yang sangat —
Sangat aku kenal.
Suara napas seorang perempuan yang sedang menahan tangis.
Suara yang terakhir aku dengar waktu aku masih tujuh tahun.
“Nara…”
Suaranya seperti datang dari sangat jauh.
Dan sangat dekat sekaligus.
“Ibu di sini.”
Yang Aku Temukan di Rambut Aku Sendiri
Pagi harinya aku berdiri di depan cermin kamar mandi.
Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa makan.
Aku hanya berdiri dan menatap refleksi aku sendiri.
Dan aku baru menyadari sesuatu yang seharusnya aku sadari jauh lebih awal.
Rambut aku.
Aku selalu punya rambut panjang. Sampai pinggang. Hitam pekat.
Tapi aku tidak pernah memotongnya.
Tidak pernah.
Bukan karena aku suka rambut panjang.
Tapi karena setiap kali aku coba memotong rambut aku — bahkan hanya sedikit — ada sesuatu yang membuat tangan aku berhenti.
Bukan rasa sakit.
Bukan takut.
Hanya —
Sesuatu yang mengatakan jangan.
Sesuatu yang sangat familiar.
Seperti suara ibu yang melarang anak kecilnya melakukan sesuatu yang berbahaya.
Aku ambil gunting di laci kamar mandi.
Aku pegang sehelai rambut aku.
Aku coba potong.
Dan untuk pertama kalinya —
Suara itu tidak datang.
Yang datang justru —
Dari cermin di depan aku —
Sebuah tangan.
Perempuan.
Keluar perlahan dari permukaan cermin.
Jarinya panjang. Kulitnya pucat. Kukunya panjang dan hitam di ujungnya.
Tangan itu bergerak pelan ke arah tangan aku yang memegang gunting.
Dan menutup jari-jarinya di atas jari-jari aku.
Pelan.
Lembut.
Seperti seorang ibu yang memegang tangan anaknya.
Plot Twist — Yang Tidak Aku Ceritakan ke Siapapun
Bu Ratih meninggal dua hari kemudian.
Ditemukan di kamarnya. Duduk di kursi. Seperti orang tidur.
Di lantai sekitar kakinya —
Ada rambut panjang berserakan.
Dokter bilang jantung.
Aku tidak bilang apa-apa.
Karena aku tahu.
Aku tahu kenapa Bu Ratih meninggal.
Bukan karena jantung.
Tapi karena Bu Ratih adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran tentang Ibu.
Satu-satunya orang yang bisa membantu aku memutus ritual rambut sewu ini.
Dan sekarang dia sudah tidak ada.
Aku duduk sendirian di kamar aku malam itu.
Aku buka buku catatan Ibu sekali lagi.
Aku baca dari awal.
Dan baru di halaman ketujuh — halaman yang sebelumnya aku lewati karena tulisannya samar — aku menemukan sesuatu yang membuat semua yang aku alami selama ini tiba-tiba masuk akal dengan cara yang paling mengerikan.
Di halaman itu Ibu menulis tentang cara kerja Ritual Rambut Sewu yang sesungguhnya.
Tentang bagaimana rambut yang dikumpulkan harus berasal dari dua pihak.
Dari pelaku — dan dari target.
Dan ritual itu tidak hanya bekerja satu arah.
Ritual Rambut Sewu menciptakan ikatan.
Seperti tali yang mengikat dua titik sekaligus.
Artinya —
Kalau Ibu tidak bisa meninggalkan aku —
Aku juga tidak bisa meninggalkan Ibu.
Ke mana pun aku pergi —
Aku akan membawa Ibu.
Dan ke mana pun Ibu berada —
Aku sudah ada di sana.
Aku baca kalimat itu tiga kali.
Lalu aku letakkan buku itu.
Lalu aku periksa lantai kamar aku.
Dan aku temukan sesuatu yang membuat aku akhirnya mengerti kenapa sepuluh tahun ini aku tidak pernah bisa tidur nyenyak.
Di bawah kasur aku —
Di bawah kasur yang sudah aku tiduri selama sepuluh tahun —
Ada rambut panjang.
Tersusun rapi.
Melingkar.
Seperti sarang.
Persis seperti yang ada di ruangan bawah panti.
Tapi aku tidak pernah menaruhnya di sana.
Aku tidak ingat melakukannya.
Aku tidak pernah sadar melakukannya.
Catatan Terakhir Nara
Aku masih di panti ini.
Aku tidak ke mana-mana.
Aku sudah tidak mencoba pergi.
Bukan karena aku menyerah.
Tapi karena aku baru mengerti sesuatu yang lebih gelap dari semua yang sudah aku ceritakan —
Ritual Rambut Sewu tidak dilakukan sendirian oleh Ibu aku.
Aku membantunya.
Bukan waktu aku dewasa. Bukan waktu aku sudah bisa berpikir.
Tapi waktu aku masih tujuh tahun —
Di malam terakhir sebelum Ibu menghilang —
Ibu membangunkan aku.
Mengajak aku turun ke ruangan kecil itu.
Mendudukkan aku di atas tikar.
Dan aku — tujuh tahun, mengantuk, percaya penuh pada ibu aku — melakukan apapun yang dia minta.
Aku tidak ingat detailnya.
Aku tidak pernah ingat.
Tapi sekarang —
Setiap malam sebelum tidur —
Tanpa aku sadari —
Tangan aku bergerak sendiri.
Mengumpulkan rambut dari sisir aku.
Menyimpannya di bawah kasur.
Menyusunnya dengan rapi.
Setiap malam.
Sudah sepuluh tahun.
Dan malam ini —
Waktu aku baru selesai menulis cerita ini —
Aku hitung rambut yang ada di bawah kasur aku.
Aku hitung dengan teliti.
Dan jumlahnya —
Sembilan ratus sembilan puluh sembilan helai.
Kurang satu.
Ritual Rambut Sewu tidak selalu dilakukan oleh orang yang tahu mereka melakukannya.
Kadang cinta seorang ibu cukup untuk membuat anaknya menjadi perpanjangan tangannya —
Tanpa si anak pernah tahu.
Sampai semuanya sudah terlambat.






Leave a Reply