Lagi-lagi ini tentang DBD. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau yang disebut dengan “dengue” saja, masih terus mengintai kita. Saya kira, kita sudah bisa tenang, tidak dihantui oleh penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini lagi. Ternyata, pada kenyataannya, dengue masih menelan korban.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Pada 21 Maret 2024 lalu, saya ikut hadir di acara talkshow tentang pencegahan DBD, di Hotel Raffles, Jakarta. Talkshow ini dipandu oleh Shahnaz Haque dan menghadirkan narasumber Bapak Andreas Gutknecht (Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, dr. Imran Pambudi (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI), serta dr. Alvin Saputra dan dr. Ngabila Salama, perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Mereka memberikan info-info penting seputar dengue.

Dengue tidak kenal musim. Itu artinya bisa menjangkiti sepanjang tahun. Ketika musim hujan tiba, semakin banyak genangan yang berasal dari air hujan, sehingga daur hidup nyamuk Aedes aegypti terus berulang. Semakin banyak jugalah orang yang terinfeksi dan menderita dengue.
Yang membuat ngeri, dengue itu bisa menyebabkan kematian. Banyak orang yang lengah, karena sering kali gejalanya hanya berupa demam. Namun, terlambat sedikit saja, bisa menyebabkan perdarahan dan kemudian berujung pada kematian.
Menurut dr. Imran, bahkan saat ini beberapa daerah di Indonesia sudah menetapkan kasus Kondisi Luar Biasa (KLB) Dengue. Bulan Maret ini, daerah yang menetapkan KLB Dengue adalah Jepara, Enrekang, Kutai Barat, Lampung Timur, dan Kabupaten Nagekeo. Sampai minggu ke-11 tahun 2024 terdapat 35.556 kasus DBD di Indonesia dengan 290 kematian.
Kementerian Kesehatan RI punya target, tahun 2030 nanti angka kematian akibat dengue harus mencapai nol. Untuk mencapai target tersebut diperlukan peran aktif seluruh lapisan masyarakat. Penerapan 3M Plus masih memegang peranan yang sangat krusial dalam mengendalikan kasus DBD di Indonesia.

Pemerintah pun tidak bosan-bosannya menekankan pentingnya 3M Plus dan mempertimbangkan pencegahan inovatif menggunakan Wolbachia dan melakukan vaksin DBD.
Pengendalian dan pencegahan dengue juga harus dilakukan di tingkat terkecil, yaitu keluarga. Semakin banyak keluarga yang menyadari dan ikut bergerak, semakin membantu pemerintah mendekati target <10/10.000 penduduk yang mengalami DBD.
Pemerintah Bergandeng Tangan dengan Takeda
Tidak hanya menerapkan gerakan 3M Plus, pemerintah pun menggandeng pihak swasta dalam menanggulangi DBD dan mengejar target nol kematian. Adalah Takeda, yang bersama-sama Kementerian Kesehatan menyusun program kerja dan meluncurkan kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD.

Tujuan kampanye ini adalah mengajak lebih banyak masyarakat agar semakin paham tentang DBD, melakukan pencegahan, mendapatkan edukasi untuk melakukan tindakan preventif dan inovatif, sehingga terhindar dari DBD.
Vaksin DBD yang tersedia saat ini di Indonesia, bisa diberikan kepada kelompok usia 6-45 tahun. Kalau ingin mendapatkan vaksin DBD dan mendapatkan perlindungan menyeluruh, konsultasikan pada tenaga kesehatan. Jangan lupa juga cari informasi sebanyak-banyaknya tentang DBD agar orang-orang yang kita sayangi terlindung dari DBD yang mengancam jiwa.
Penghargaan Perunggu dari PR Indonesia Award 2024
Tindakan preventif yang dimaksud adalah pelaksanaan vaksin, yang berguna untuk mencegah infeksi DBD dari nyamuk Aedes aegypti.
Selama bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI, Takeda menjalankan program corporate PR dalam upaya pencegahan DBD di Indonesia. Program ini berupa serangkaian kegiatan yang komprehensif dan memberikan dampak besar bagi masyarakat Indonesia.
Takeda pun mengumumkan bahwa program ini telah sampai pada pencapaian luar biasa sehingga mendapatkan penghargaan perunggu dari ajang PR Indonesia Award 2024 kategori Program Corporate PR untuk Perusahaan Swasta. Jadi, Takeda mendapatkan award dari hasil kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD yang dilakukan bersama Kemenkes.

Andreas Gutknecht menyampaikan, Takeda sangat bangga menerima pengakuan luar biasa dari PR Indonesia ini sebagai pengakuan atas komitmen bersama Kementerian Kesehatan dalam memerangi DBD di Indonesia.
Masih menurut Andreas, pencapaian ini adalah bukti dedikasi Takeda dalam memberikan perbedaan nyata dalam kesehatan masyarakat sesuai keahlian mereka. Pencapaian ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan dan pihak terkait lainnya, seperti para mitra di dunia kesehatan, komunitas, dan masyarakat umum.
Banyaknya pihak terkait yang ikut berperan, membuktikan bahwa pencapaian ini bukan hanya milik Takeda, melainkan milik semua pihak yang gigih melakukan pencegahan dan pengendalian DBD di Indonesia.
Ternyata, komitmen Takeda dalam mencegah DBD, tidak hanya di sini. Takeda juga berpartisipasi sebagai salah satu anggota pendiri Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue yang digagas oleh Kaukus Kesehatan DPR RI dan Kementerian Kesehatan.

Tentang PR Indonesia Award (PRIA)
Sebenarnya, apa sih, PR Indonesia Award (PRIA) itu? PRIA 2024 adalah ajang kompetisi yang menilai kinerja kehumasan/PR di Perusahaan Swasta Nasional & Multinasional, BUMN, Anak Usaha BUMN, BUMD, Pemerintah Kota/Kabupaten/ Provinsi, Lembaga, Kementerian, dan Perguruan Tinggi.
Yang dinilai dalam kompetisi ini adalah karya kreatif/program/pencapaian PR terbaik korporasi/instansi sepanjang Januari—Desember 2023. Nah, Tahun 2024 ini adalah tahun ke-9. PRIA telah menerima sejumlah 699 karya dari 219 institusi dan perusahaan dari berbagai industri dengan kategori yang berbeda, yaitu PR Program, Crisis Management, Owned Media, Digital Canal, Annual Report, PR Department, dan CSR Communications.
Begitu gigihnya pemerintah dan pihak swasta dalam mencegah dan menanggulangi DBD. Kita sebagai masyarakat dan anggota keluarga, tentunya juga harus ikut andil dalam memerangi penyakit yang satu itu. Cara paling mudah adalah mendukung kampanye yang telah digalakkan oleh pemerintah dan berbagai pihak, yaitu #Ayo3MplusVaksinDBD.
Jadi, kapan mau vaksin?







Leave a Reply