Ketika Sejarah Dikemas dengan Cara Berbeda
Pementasan drama musikal yang bikin saya terharu.

Ketika Sejarah Dikemas dengan Cara Berbeda

Jas merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Ir. Soekarno)

Saya tercenung saat pertama kali mendengar slogan ini. Mengapa kita tidak boleh melupakan sejarah?

Ternyata, sejarah adalah spion untuk masa depan dan media untuk menggali rasa cinta yang kuat pada Indonesia. Faktanya, kita akan kehilangan obor jika tidak mengenal sejarah. Bagaimana pun beralihnya peradaban ini, sebuah bangsa bisa tetap solid jika akarnya tetap kokoh sampai kapan pun.

Wah, makna sejarah, dalam banget, ya.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah, ya.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah, ya.

Sementara, banyak orang yang bosan saat belajar sejarah. Saya pribadi, suka banget sama sejarah. Saya bisa tercengang-cengang membayangkan Keumalahayati, pahlawan wanita dari Aceh berhasil membunuh Cornelis de Houtman, jenderal Belanda yang terkenal kejam. Pikiran saya juga bisa melayang jauh seperti melihat kejadiannya langsung, ketika mengunjungi Museum Bahari yang dahulu adalah gudang rempah-rempah milik Belanda.

Waktu sekolah saya pernah dapat nilai seratus untuk ulangan sejarah. Saya disirikin teman-teman, dong. Mereka ngira saya nyontek karena pelajaran sejarah memang susah. Padahal itu hasil kerja keras saya menghafal nama, lokasi, dan tanggal kejadian pada saat berlangsungnya peristiwa-peristiwa sejarah.

Saya akui, selama ini penyampaian sejarah memang terkesan kaku dan membosankan. Bahasanya pun kurang luwes macam baca berita saja. Saya pun sering ngantuk kalau mendengarkan cerita sejarah. Setidaknya, kesan ini terus melekat sampai suatu hari di masa kejayaan dulu (baca: masa muda), saya sering nonton teater.

Nonton-Drama-Musikal-Khatulistiwa-rame-rame-yuk!
Nonton-Drama-Musikal-Khatulistiwa-rame-rame-yuk!

Salah satu cerita teater yang saya tonton itu berkisah tentang Aryo Penangsang yang wafat karena terluka oleh keris yang dicabutnya sendiri dari pinggangnya. Gokil banget nggak, sih?

Cerita sejarah yang disampaikan melalui teater, jauh lebih menarik. Dengan gerak, dialog, gending gamelan, dan tari-tarian yang dibawakan, kita jadi lebih mengerti. Cerita sejarah pun lebih tersampaikan.

Saya senaaang banget ketika CIMB Niaga bekerjasama dengan Josodirdjo Foundation dan Zigzag Indonesia tergerak menyelenggarakan drama musikal bertajuk Mengenal Jejak Langkah Negeri. Drama Musikal Khatulistiwa ini tujuannya mengajak generasi muda untuk lebih mengenal jejak langkah negeri ini. Dengan adanya drama musikal ini diharapkan rasa cinta kita kepada Indonesia akan lebih kental lagi. Anak-anak muda pasti nggak bosan menyimak sejarah dengan cara seperti ini. Apalagi penyajiannya dikemas dengan sangat modern dan profesional.

Sebenarnya, Ibu Tiara Josodirdjo sudah bermimpi menyelenggarakan drama musikal seperti ini sudah sejak 9 tahun yang lalu. Idenya adalah menampilkan karakter hebat para pahlawan bangsa. Gayung pun bersambut. Bapak Tigor. M. Siahaan, Presiden Direktur CIMB Niaga mendukung cita-cita Ibu Tiara.

Pada acara launching Drama Musikal Khatulistiwa ini, saya terkagum-kagum pada teaser pementasan dramanya. Benar deh, ini bikin saya ingat waktu sering latihan teater dulu. Pemainnya dari mulai anak-anak sampai orang dewasa. Semoga semakin banyak anak yang hobi main teater, ya.

Pementasan drama musikal yang bikin saya terharu.
Pementasan drama musikal yang bikin saya terharu.
Pemainnya bukan hanya orang Indonesia asli, tetapi ada beberapa orang luar negeri yang memerankan sebagai tokoh penjajah.
Pemainnya bukan hanya orang Indonesia asli, tetapi ada beberapa orang luar negeri yang memerankan sebagai tokoh penjajah.
Sebagian pemain pendukung Drama Musikal Khatulistiwa. Masih ada ratusan pemain lain yang ikut dalam pementasan nanti.
Sebagian pemain pendukung Drama Musikal Khatulistiwa. Masih ada ratusan pemain lain yang ikut dalam pementasan nanti.
Orang-orang di balik produksi drama musikal khatulistiwa.
Orang-orang di balik produksi drama musikal khatulistiwa.

Oh ya, drama ini didukung oleh beberapa artis ibukota, seperti Rio Dewanto dan Kelly Tandiono. Orang hebat lainnya yang juga terlibat di produksi ini adalah Asep Kambali (sejarawan) dan Adjie. N. A (sutradara).

Drama Musikal Khatulistiwa akan dipentaskan tanggal 18-20 November 2016 di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Hanya tiga hari, lho. Jangan sampai ketinggalan, ya. Saya mau kosongin jadwal untuk nonton drama musikal ini dan bawa anak-anak, ah.

Kamu juga, yuk!

16 Comments

  1. Iya,,saya suka ngantuk klo pelajaran sejarah *dulu waktu masih muda namun kini saya justru tertarik sekali sama sejarah para pahlawan.

    • Semakin ke sini malah semakin tertarik sama sejarah ya, Mbak. Seru, sih. Hehehe

  2. Saya juga suka sejarah. Ini acaranya cuma di Jakarta ya -_- coba sejarah kita dibikin drama spt drama Korea gitu 😀

    • Iya, acaranya hanya di Jakarta. Wah, ide bagus tuh, ya. Kayak komik Jepang kan juga banyak yang berlatar sejarah. Salah satunya Jendela Orpheus.

  3. Nonton drama Musikal Khatulistiwa rame – rame yoook tanteeee.
    Gak sabar buat nonton niih.

    • Hihihi ngafalinnya udah sejak seribu satu malam sebelum ulangan, Mbak 😀

  4. sejarah kalau dikemas dengan menarik bisa memukau penonton juga ya

  5. Bagusnya sih memang dengan memakai drama musikal seperti itu kalo pelajaran sejarah, jadi lebih seru dan penuh penghayatan…

  6. waah mbak aku juga suka banget sejarah, karena sejarah adalah akar peradaban

  7. Sejarah memang sebetulnya menarik. Cuma kalau di sekolah suka bikin ngantu karena cara menyampaikannya ngebosenin. Coba kalau semua cerita sejarah dibikin menarik kayak gini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *