Sebagai masyarakat yang berkesempatan hadir langsung dalam gelaran Indonesia Humanitarian Summit (IHITS) yang diselenggarakan Dompet Dhuafa, saya merasakan atmosfer yang berbeda sejak pertama memasuki area acara di Gedung Nusantara TV. Ini adalah forum diskusi atau laporan tahunan lembaga filantropi, yang juga sebagai ruang pertemuan ide, refleksi, sekaligus panggilan bersama untuk memperkuat peran kemanusiaan di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.

IHITS menjadi momen penting bagi Dompet Dhuafa untuk membuka ruang dialog dengan publik, mitra, pemerintah, dan media. Forum ini menghadirkan narasi besar bahwa filantropi bergerak ke arah pemberdayaan yang berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.
Dompet Dhuafa dan Jejak Panjang Filantropi di Indonesia
Dalam paparan yang disampaikan, Dompet Dhuafa kembali menegaskan posisinya sebagai pelopor filantropi di Indonesia. Sejak berdiri pada 1993, Dompet Dhuafa telah menapaki perjalanan panjang selama 32 tahun, menjangkau lebih dari 41,8 juta penerima manfaat melalui berbagai program di bidang sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dakwah, dan kebudayaan.
Capaian ini membuktikan konsistensi Dompet Dhuafa dalam mengelola amanah publik. Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menyampaikan laporan capaian lembaga sepanjang tahun terakhir, termasuk penghimpunan dan penyaluran dana yang sebagian besar diarahkan pada program-program pemberdayaan masyarakat. Pesan yang terasa kuat adalah komitmen Dompet Dhuafa untuk menjaga kepercayaan publik melalui transparansi dan dampak nyata di lapangan.

Forum Diskusi Lintas Sektor yang Kaya Perspektif
Salah satu kekuatan IHITS terletak pada keberagaman perspektif yang dihadirkan. Para pembicara datang dari berbagai latar belakang, mulai dari internal Dompet Dhuafa, pemerintah, media, hingga jaringan filantropi dan dunia usaha.
Hadir di antaranya perwakilan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, serta Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta. Dalam salah satu sesi, Anis Matta menyoroti filantropi sebagai pilar penting dalam membangun kohesi sosial dan kepercayaan publik. Menurutnya, praktik memberi dan berbagi memiliki dimensi sosial dan psikologis yang kuat, terutama di tengah masyarakat yang tengah menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian global.
Dari sisi media, Direktur Komersial Nusantara TV, Dede Apriadi turut berbagi pandangan tentang peran media dalam memperluas dampak narasi kemanusiaan. Media dinilai memiliki posisi strategis untuk menjembatani kerja-kerja filantropi agar lebih dikenal, dipahami, dan dipercaya publik.

Filantropi sebagai Pilar Kepercayaan Publik
Isu tentang kepercayaan publik menjadi benang merah dalam berbagai sesi diskusi. Yudi Latif, yang hadir sebagai bagian dari Advisory Board Dompet Dhuafa, menegaskan bahwa filantropi saat ini memegang peran penting sebagai pilar kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan terhadap negara dan pasar kerap diuji, organisasi filantropi dituntut untuk hadir dengan tata kelola yang kuat, nilai etika yang jelas, serta dampak yang terukur.
Pandangan ini sejalan dengan paparan yang disampaikan oleh Ketua Bidang Inovasi dan Literasi Forum Zakat, Dr. Eko Muliansyah, yang menyoroti pentingnya inovasi dan literasi publik dalam ekosistem zakat dan filantropi. Filantropi tidak bisa berjalan dengan pola lama, tetapi harus adaptif, akuntabel, dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Melihat Dampak Secara Nyata Melalui Pameran Produk
Selain sesi diskusi, area pameran IHITS menjadi ruang yang menarik. Di sinilah dampak kerja Dompet Dhuafa terlihat secara nyata. Beragam program pemberdayaan dipamerkan, mulai dari layanan kesehatan, konsultasi ekonomi masyarakat, edukasi digital, hingga showcase produk hasil pemberdayaan masyarakat.
Saya melihat langsung bahwa program-program tersebut dirancang untuk mendorong kemandirian. Produk-produk hasil pemberdayaan yang dipamerkan mencerminkan proses panjang pendampingan masyarakat, dari peningkatan kapasitas hingga akses pasar. Di titik ini, filantropi terasa sangat dekat dan membumi.


“Empowerment to The Next Level” sebagai Komitmen Bersama
Tema besar IHITS, “Empowerment to The Next Level”, menjadi penegasan arah gerak Dompet Dhuafa ke depan. Pesan yang ingin disampaikan jelas, yaitu filantropi harus bertransformasi menjadi solusi berkelanjutan. Tujuannya membantu masyarakat keluar dari lingkar kemiskinan secara mandiri dan bermartabat.
Sebagai peserta yang menyimak langsung rangkaian acara, saya merasakan bahwa IHITS adalah undangan terbuka bagi semua pihak, baik masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media, untuk bergerak bersama. Kolaborasi menjadi kunci agar kerja-kerja kemanusiaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan.
Indonesia Humanitarian Summit akhirnya meninggalkan kesan mendalam, bahwa perubahan sosial membutuhkan keberanian untuk berkolaborasi, konsistensi dalam nilai, dan komitmen jangka panjang.








Leave a Reply