• Home
  • About
  • Contact
  • Portfolio
  • Secret!

Nunik Utami

Menulis adalah Merekam Jejak untuk Anak Cucu

  • Artikel
    • Beauty
    • Events
    • Fashion
    • Healthy
    • Tips
  • Finance
  • Parenting
  • Review
    • Book
    • Food
    • Film
    • Hotel
    • Place
    • Product
  • Travel
    • Indonesia
    • Malaysia
    • Thailand
    • Singapore
  • Working
    • Writer
    • Editor
    • Blogger
    • Trainer
  • Story
    • Cerpen
    • Dongeng
  • Savana Hijab
    • Hijab Tutorial
  • Dewangga Publisher
You are here: Home / Review / Food / Hati-Hati Saat Menyantap Rawon

Hati-Hati Saat Menyantap Rawon

November 6, 2015 Nunik Utami 4 Comments

Tahu kluwek? Bumbu yang kadang ditulis dengan “kluak” atau “keluak” ini bentuknya seperti batu. Fungsinya sebagai bumbu pelengkap berbagai masakan. Salah satu masakan yang menggunakan kluwek adalah rawon.

Inilah kluwek, ssalah satu bumbu masak yang dignakan pada rawon. Gambar dari tokopedia.com
Inilah kluwek, ssalah satu bumbu masak yang dignakan pada rawon.
Gambar dari tokopedia.com

Hari itu suasana kantor biasa-biasa saja. Tidak ada yang beda. Menjelang makan siang, seperti biasa salah seorang karyawan di bagian umum menawarkan kami untuk titip membeli menu makan siang. Saat itu saya sedang bingung, antara kepengin gado-gado, tapi juga pengin makan makanan berkuah. Kayaknya makanan berkuah segar banget untuk tenggorokan yang lagi nggak enak begitu. Tapi, saya juga sedang tidak terlalu pengin makan daging. Jadi bingung, deh. Setelah dipikir-pikir lagi, akhirnya, gado-gado memenangkan pertarungan dari kegalauan di hati saya. Saya pun memesan gado-gado.

Ketika pesanan tiba, saya langsung menyantap gado-gado lontong itu. Asyik, kebutuhan saya akan sayur, terpenuhi. Perut kenyang, hati pun senang. Tapi, eh … kok rasanya kayak ada yang kurang.

Ternyata, saya masih kepengin makan makanan berkuah. Sayangnya, saya sudah kenyang dengan gado-gado. Nggak mungkin bisa makan makanan berkuah lagi sebanyak satu porsi. Intinya, saya hanya pengin kuahnya, biar segar. Kebetulan, teman satu meja memesan rawon. Si Teman menawarkan rawon itu untuk saya, sebab dia sudah makan. Jadilah satu porsi rawon itu berpindah kepemilikan.

Rawon daging yang begitu lezat ini pernah membuat cerita dalam hidup saya. Gembar dari streetfood.co.id
Rawon daging yang begitu lezat ini pernah membuat gigi saya patah.
Gambar dari streetfood.co.id

Wah, mata saya berbinar-binar menatap kuah panas beraroma harum ketika saya menuangnya ke dalam mangkuk. Irisan-irisan daging, toge kecambah, dan berbagai bahan tambahannya membuat makanan khas Jawa Timur itu begitu menggoda. Saya langsung mengambil sendok dan mencoba kuahnya. Waahh, segaar… Iya, saya hanya butuh kuahnya dan sama sekali tidak menyentuh isi rawon itu.

Irisan-irisan daging yang ada, saya diamkan. Kali ini saya tidak tertarik dengan irisan-irisan daging yang tampak sangat lezat itu.

Sedang asyik-asyiknya menyeruput kuah rawon, tiba-tiba ….

Krek!

Aduh! Apa ini?

Bersamaan dengan bunyi “krek”, saya merasakan sakit di gigi bawah bagian kanan. Saya terdiam sesaat sambil menebak-nebak yang terjadi. Saya hanya makan kuahnya tapi kenapa saya menggigit sesuatu yang keras?

Saya langsung ke toilet dan membuang kuah rawon yang masih ada di mulut. Setelah itu, saya melihat kondisi gigi saya melalui cermin.

Ya ampun! Ada potongan kluwek yang tergigit! Gara-gara benda kecil hitam itu gigi saya …

Oh! Gigi saya patah sebagian! Saking kerasnya, kluwek itu tidak sengaja tergigit dan mematahkan gigi.

Hiks! Untunglah tidak apa-apa. Saya tidak merasakan sakit seperti sakit gigi pada umumnya.

Jadi, bukan kluweknya yang salah. Mungkin saja gigi saya yang sudah mulai … nggg … berumur, mungkin?

Okelah, kamu tidak perlu hati-hati saat makan rawon. Makanan khas Surabaya itu tetap lezat dan tidak kurang suatu apa pun. Sayanya saja yang … yah, begitu, deh.

Food, Review kuliner

About Nunik Utami

Penulis, Editor, Trainer Penulisan, Mommy.

Comments

  1. Aireni Biroe says

    November 16, 2015 at 03:16

    wuaahaha..baca judulnya sudah bikin penasaran, “emang kenapa ya kalo makan rawon?” karena saya pecinta rawon…eh ternyanya 😀

    Reply
    • Nunik Utami says

      November 19, 2015 at 13:04

      Hahaha … rawonnya sih nggak apa-apa.

      Reply
  2. Wooclip says

    March 2, 2016 at 16:26

    Wow these look so yummy! My mouth is watering just looking at your photos.

    Reply
    • Nunik Utami says

      March 3, 2016 at 12:52

      Yes, this is one of our traditional food.

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search Here

Welcome

Penulis, Editor, Trainer Penulisan, Mommy. More…

  • Email
  • Facebook
  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter

Archive

Follow Instagram @nunikutami

Part of

 Blogger Perempuan
PRchecker.info

Lets Eat

Tag

batik bayi tabung belanja online bisnis bitcoin blog budaya buku cerpen crypto entrepreneur fashion film financial planner finansial gadget hijab hotel indonesia investasi jalan-jalan jawa tengah jilbab kerudung kesehatan keuangan kosmetik kripto kuliner lombok makanan enak menerbitkan buku menulis buku mobil musik otomotif parenting pashmina penulis properti seni teknologi traveling UMKM voucher diskon

Posting Terbaru

  • Siapkan Kendaraan Versi Terbaikmu dengan Semangat Kurbanival Dompet Dhuafa 2026
  • Kisah dari Satu Dekade Lampau
  • 7 Manfaat Game Kuliner bagi Anak-anak dan Tips Bermain yang Sehat
  • Tips Agar Tidak Asal Membeli Kosmetik Sebagai Produk Kesehatan dan Kecantikan
  • Tips Merawat dan Membersihkan AC Split Agar Awet dan Tetap Sejuk

Komentar Terbaru

  • Nunik Utami on Komik “Maher Zain – Cinta dari Timur” (Sahabat Ufuk, 2012)
  • Syarifah Nadia on Komik “Maher Zain – Cinta dari Timur” (Sahabat Ufuk, 2012)
  • April Hamsa on Kipas Angin Raksasa Muncul di Tengah Kota
  • Novitania on Kipas Angin Raksasa Muncul di Tengah Kota
  • Ninin Rahayu Sari on Kipas Angin Raksasa Muncul di Tengah Kota
Copyright © 2026 Nunik Utami · Part of Blogger Perempuan. built on the Genesis